Headlines News :
Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Hanya Aku&Amalanku Nanti Disini


Nasihat menyentuh hati akan pentingnya menjaga waktu dan mengambil pelajaran dari keadaan dunia.

📢 Asy-Syaikh Al-Allaamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata : 

☝🌕 ''Sesungguhnya dunia ini semuanya akan berlalu. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di dalamnya merupakan pelajaran yang berharga. Jika engkau melihat matahari keluar di pagi hari, kemudian tenggelam di sore hari, lalu menghilang... Demikian juga wujudnya seorang insan di dunia.
Ia muncul kedunia kemudian akan sirna.

👋▪Jika kita melihat rembulan demikian pula, ia muncul di awal bulan dalam bentuk bulan sabit kecil, kemudian terus bertambah membesar. Maka jika telah sempurna, iapun mulai mengecil sampai kembali seperti sedia kala. Demikian juga kalau kita perhatikan bulan demi bulan. Engkau dapati seorang insan memandang kalau bulan depan masih lama datangnya. Misalnya ia mengatakan : Kita sekarang ada di bulan dua belas. Bulan ramadhan masih delapan bulan lagi, maka alangkah lamanya! Tiba-tiba ia telah melewati ramadhan dengan cepatnya. Tak terasa seolah-olah (kedatangan ramadhan) itu seperti waktu sesaat di siang hari.

✋🔥 Demikian juga umur, umur seorang insan. Engkau dapati ia memandang kamatian itu masih lama datangnya, ia masih memiliki angan-angan, tiba-tiba tali angan-angannya telah terputus. Maka sungguh telah terluput darinya segala sesuatu. Engkau dapati ia telah dipikul orang lain diatas keranda mayat, lalu iapun dikuburkan dalam tanah. Lalu ia berfikir : ''Kapan terjadinya keadaanku ini? Kapan saya sampai pada keadaan ini?''
Dan tiba-tiba ia telah sampai kepada (ajal)nya, seolah-olah tidaklah ia hidup di dunia ini kecuali baru sore tadi atau waktu dhuhanya.

🔄✔ Saya mengatakan ini agar bisa memotivasi saya sendiri dan saudara-saudaraku untuk bersegera memanfaatkan waktu, agar tidak menyia-nyiakan waktu, biarpun sedikit, kecuali dalam keadaan kita mengetahui perhitungan kita padanya. Apakah kita sudah mendekatkan diri kita kepada Allah...

Semoga Bermanfaat..
Barakallahu fiikum


copas dari  https://www.facebook.com/yoez.sangpetualang?fref=photo 

0 التعليقات

Kenikmatan Dunia Tidak Akan Pernah Memuaskanmu


Sahabatku …

Kalau bicara dunia sungguh manusia ini rata-rata rakus dunia , tidak akan pernah merasa cukup dengan yang dimiliki , jadi seharusnya anda sadar  bila umur yang sedikit didunia ini hanya untuk mencari kepuasan dunia , ketahuilah anda tidak akan pernah merasa puas , karena setiap kali  mendapatkan harta , motor , mobil mewah, rumah luas bertingkat-tingkat , perusahaan dimana-mana , uang yang jumlahnya ratusan juta  1M  2M  1T 2T, jabatan tinggi , bahkan istri-istri cantik jelita , sekalipun semua ini sudah anda miliki , anda tidak akan pernah merasa puas , bahkan sikaranya anda memiliki harta emas dan perak  memenuhi dua lembahpun , itu tidak akan pernah memuaskan anda.

Itulah yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam haditsnya :

لو كان لابن آدم واديان من مال لابتغى ثالثا , ولا يملأ جوف ابن آدم إلا التراب , ويتوب الله على من تاب ((متفق عليه ))

Kalau sekiranya anak keturunan Adam (alaihissalam) ini memiliki dua lembah harta , pasti ia ingin lembah ketiga , tidak ada yang memenuhi mulut(kepuasan dunia) anak keturunan Adam ini kecuali debu (yaitu kematian) , dan Allah Ta’ala memberi taubat kepada siapa saja yang bertaubat (HR Bukhari 6436 dan Muslim 1049)

Dan sungguh merugilah wahai sahabatku , bila semua itu anda miliki , tidak pernah memuaskan  bahkan melalaikan dari perintah-perintah Allah.

Allah Ta’ala berfirman :
﴿ أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ* حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ* كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ* ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ* كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ* لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ* ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ* ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴾
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu * sampai kamu masuk ke liang kubur *janganlah begitu , kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)* dan janganlah begitu , kelak kamu akan mengetahui * janganlah begitu jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin * niscaya kamu benar-benar melihat neraka jahiim * dan sesungguhnya kamu akan benar-benar melihatnya dengan ‘ainul yakin (mata kepala sendiri) *kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu mengah-megahkan didunia itu) (QS Attakaatsur 1-8)

Sahabatku …
Allah Jalla Jalaaluh tidak pernah memerintahkan kita berlomba-lomba mengejar dunia sebaliknya Allah telah menunjukkan yang lebih baik dari itu , yaitu kampung akhirat. Mari jadikan tujuan hidup didunia ini adalah untuk akhirat , surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi, disitulah tempat kehidupan yang abadi dan kenikmatan yang sejati .

والآخرة خير وأبقى
Dan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal (Qs Al-A’la :17)

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ  (الحديد : 21)
Artinya :“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi , disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-NYA itulah karunia Allah , diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki , dan Allah memiliki karunia yang besar” (Qs.Alhadid : 21)

Somoga bermanfaat.

Abu Nawwaf Akhyar Rasyidi
Thaif  10/7/1436H


0 التعليقات

KENAPA MANUSIA SERING TERLAMBAT KEMBALI KEJALAN ALLAH ?



(Nasihat Imam Ibnu Aljauzi)

Kurenungi keadaan manusia , kudapati mereka dalam keadaan yang mengherankan ,sampai saja kupastikan akalnya telah rusak!

Itu karena  ia telah mendengar peringatan yang mengingatkan kepadanya akan akhirat , ia mengetahui sungguh peringatan itu benar , lalu ia menangis teringat atas kelalaiannya selama ini , dan ber'azam untuk kembali menjadi baik , ternyata ia lambat memenuhi apa yang telah ia 'azamkan , bila dikatakan kepadanya : apakah engkau meragukan ancaman dari dosa-dosa itu , ia menjawab : tidak demi Allah .
kalau begitu cepat lakukan kebaikan!
kemudian ia berniat diatas kebaikan , tapi ternyata masih saja ia tidak melakukan kebaikan , bahkan lebih condong kepada lezatnya sebuah dosa yang diharamkan , padahal ia mengetahui itu dilarang!

perihal ini sama seperti yang terjadi pada tiga orang yang terlambat , sampai tidak jadi ikut berperang , padahal mereka tidak ada 'udzur , dan mereka mengetahui buruknya sikap yang dilakukan , maka seperti itu juga setiap pelaku maksiat yang lalai lambat dalam bertaubat.

lalu kupikirkan apa sebabnya , padahal apa yang diyakini sudah benar , tapi kenapa selalu lambat untuk menjadi baik.

Ternyata kudapati sebabnya ada tiga hal :

1. PERHATIAN CEPAT PADA LINTASAN HAWA NAFSU , karena kalau sudah perhatian pada hawa nafsu maka pikiran akan tersibukkan bagaimana cara mendapatkannya agar puas.

2.MENUNDA-NUNDA DALAM BERTAUBAT , kalau sekiranya akalnya sadar , akan akibat menunda-nunda , yang bisa saja ia mati dan taubat belum ia dapatkan! .
DAN yang mengherankan , orang yang baru saja , belum berlalu satu jam dalam keadaan sangat sadar , tapi TETAP SAJA tidak beramal dengan sungguh , itulah hawa nafsu , menengnggelamkan angan-angan.
dan sungguh pembawa syari'at yaitu Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengingatkan  : "Shalatlah dengan shalat perpisahan" (HR . Ahmad dan Ibnu Majah)  ini adalah obat terahir untuk jenis penyakit ini , karena orang yang merasa tidak akan ada sholat lagi yang bisa ia lakukan tentu ia akan sangat bersungguh-sungguh .

3. MENGHARAPKAN RAHMAT (Allah) , pelaku maksiat kadang mengatakan : Rabku penyayang! dan dia lupa bahwa Allah adzabnya juga sangat pedih !!, kalau saja ia mengetahui rahmat Allah bukanlah kelemahan karena hukuman Allah pasti berlaku - sungguh DIA memerintahkan dipotongnya tangan bila mencuri 5 qirath , kalau ia mengetahui ini tentu sejatinya ia akan bersungguh-sungguh dalam bertaubat .


مختصر صيد الخاطر : 93-94

Alih bahasa : Abu Nawwaf


0 التعليقات

KEMANA PERGINYA UANG UMAT ISLAM?

KEMANA PERGINYA UANG UMAT ISLAM?
Oleh
Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA


PENDAHULUAN
Bulan suci ramadhan tak lama lagi akan tiba, dan nuansa religi ibadah dan perayaan hari raya Iedul Fitri mulai dirasakan umat Islam. Semangat ibadah dan kesucian hati yang selalu berkembang pada bulan suci ini pelan namun pasti mulai terasa di tengah-tengah masyarakat. Wajar bila, satu demi satu dari berbagai hal terkait dengan keduanya mulai semarak diperbincangkan.

Antusiasme umat Islam yang begitu besar terhadap kedatangan bulan suci Ramadhan dan hari raya Iedul Fitri sangat beralasan. Betapa tidak, bulan ini memiliki beribu-ribu keistimewaan dan mendatangkan berjuta-juta keberkahan.

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجِنَانِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَنَادَى مُنَادٍ : يَابَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَابَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَاللَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُل لَيْلة

“Bila malam pertama bulan Ramadhan telah tiba, maka seluruh setan dan jin gentayangan di belenggu. Seluruh pintu neraka ditutup, tidak satu pintupun yang masih terbuka. Sebaliknya, seluruh pintu surga dibuka, dan tidak satu pintupun yang tertutup. Lebih dari itu, ada penyeru yang berkata. ‘Wahai para pencari kebaikan bergegaslah dan wahai pencari kejelekan berhentilah!. Dan pada setiap malam Allah memerdekakan sebagian hambanya dari ancaman siksa neraka” [HR, at-Tirmidzi dan lainnya]

Sebagaimana perayaan Iedul Fitri walaupun Anda lakukan setiap tahun, namun tetap saja mampu mendatangkan kebahagian yang tidak pernah dapat ditebus dengan apapun. Karena itu Anda senantiasa menanti-nantikan kesempatan ini, dan rela berkorban dengan apapun demi merasakan keindahannya di tengah-tengah keluarga. Biaya yang mahal, jauhnya perjalanan dan lelahnya menghadapi kemacetan jalan, dalam sekejap semuanya sirna bila Anda berhasil merasakan kehangatan Iedul Fitri di tengah orang-orang yang Anda cintai.

Hari besar ini tidak pernah surut mengobarkan kerinduan dalam batin Anda kepada kampung halaman dan kedamaian bercengkrama dengan keluarga. Iedul Fitri begitu istimewa dalam hidup Anda, karena terbukti mampu mengantarkan Anda kepada kenangan hidup keluarga semasa Anda kecil, namun dalam suasana dan keadaan yang berbeda. Betapa tidak, setelah Anda berhasil mewujudkan sebagian cita-cita dan merasakan indahnya sukses dalam urusan dunia, kenangan masa indah semasa kanak-kanak kembali bangkit. Kondisi semacam ini tentu terasa istimewa, sehingga Anda rela berkorban dengan apapun untuk mendapatkannya.

PENGORBANAN DEMI KENANGAN INDAH IEDUL FITRI
Indahnya nuansa berlebaran di tengah-tengah-tengah handai taulan tercinta di kampung halaman, terlanjur menguasai perasaan Anda. Akibatnya Anda tidak pernah menyoal berapapun biaya yang harus anda tanggung dan seberat apapun perjuangan yang harus Anda lalui.

Kondisi ini bukan hanya terjadi pada diri Anda seorang, namun juga terjadi pada seluruh umat Islam, termasuk penulis. Walau demikian tidak sepantasnya keindahan perayaan Iedul Fitri menjadikan kita lalai dan lupa daratan.

Benar Islam merestui Anda untuk bersenang ria dan menikmati hasil jerih payah Anda selama satu tahun.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَىَّ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِى جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِى الأَنْصَارِ تَغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ بِهِ الأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثٍ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُوبَكْرٍ أَبِمُزْمُورِ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِى يَوْمِ عَيدٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ((يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا))

“Aisyah Radhiyallahu anhuma mengisahkan : Pada suatu hari raya, ayahku Abu Bakar Radhiyallahu anhu datang ke rumahku, sedangkan saat itu ada dua anak wanita kecil dari putri-putri kaum Anshar menyenandungkan slogan-slogan (yel-yel) kaum Anshar pada peperangan Bu’ats, namun keduanya bukanlah biduanita terlatih. Menyaksikan keduanya, ayahku Abu Bakar Radhiyallahu anhu langsung menghardik dan berkata, ‘Layakkah ada seruling-seruling setan di dalam rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Mendengar hardikan ayahku, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Abu Bakar, sejatinya setiap kaum pastilah memiliki hari perayaan, dan hari ini adalah hari perayaan kita” [Muttafaqun ‘alaih]

Walau demikian, bukan berarti Islam membenarkan anda melampui batas sehingga perayaan Iedul Fitri Anda lepas kontrol dan tanpa ukur.

Pada suatu hari saya membaca suatu berita bahwa untuk menyambut perayaan Iedul Fitri tahun 1432H, BI menyiapkan dana tunai sebesar Rp 61,36 triliun. Namun pada kenyataannya, prediksi BI ini tidak tepat, bahkan jauh dari kenyataan yang terjadi di lapangan. Dalam kurun waktu sekitar 4 minggu ini, ternyata dana tunai yang diserap oleh masyarakat, terutama umat Islam mencapai angka fantastis. Tahukah Anda berapa jumlah yang diserap oleh umat Islam dalam waktu yang sangat singkat tersebut?

Deputi Direktur Pengedaran Uang BI, Bapak Adnan Djuanda menjelaskan bahwa hingga H-5 permintaan umat Islam terhadap uang receh telah mencapai Rp. 77 triliun. Angka ini jauh melebihi permintaan umat Islam pada periode sebelumnya yang mencapai 54,78 triliun. Dengan demikian permintaan pecahan uang kecil yang mencerminkan nilai belanja umat Islam mengalami peningkatan sebesar 12%

Walau demikian, sadarkah Anda bahwa banyak dari dana tersebut tidak mengalir ke kantung-kantung umat Islam, namun mengalir ke kantung-kantung umat lain. Silahkan Anda cermati pusat-pusat perbelanjaan yang paling banyak dibanjiri oleh umat Islam selama bulan Ramadhan, niscaya Anda dapatkan kebanyakannya milik umat lain.

Akan tetapi coba Anda amati hari-hari besar umat lain, adakah dari umat Islam yang turut menikmati berkahnya perayaan mereka?

Bila demikian adanya, mengapa selama ini umat Islam seakan-akan tidak perduli akan fakta ini ?

KEMANA UANG UMAT ISLAM SEBESAR ITU MENGALIR?

Angka di atas, mungkin tidak pernah anda bayangkan sebelumnya, namun itulah kenyataan. Dan disaat yang sama, mungkin Anda terheran mendapatkan fakta yang selama ini dilupakan oleh banyak orang. Kemampuan membelanjakan uang begitu besar dan dalam tempo waktu yang begitu pendek, adalah bukti nyata bahwa umat Islam sejatinya kaya

Bagaimana tidak kaya, angka di atas yaitu Rp 77 triliun hanyalah angka kasar, karena itu sebatas uang yang secara resmi dicairkan oleh BI. Adapun data tepatnya, yang mencakup uang yang oleh masyarakat disimpan di bawah bantal, atau brangkas pribadi, dan lainnya tidak ada yang tahu jumlahnya.

Andai dana begitu besar ini diinvestasikan pada proyek yang produktif, tentu dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang besar. Dan andai umat Islam menyisihkan sebagian dana yang di belanjakan untuk perayaan Iedul Fitri, guna menyantuni fakir miskin tentu banyak yang dapat terentaskan dari kemiskinan.

Coba Anda renungkan, bila dana sebesar 77.000.000.000.000 (77 triliun) dibagi-bagikan kepada masyarakat miskin yang kebanyakannya beragama Islam niscaya mayoritas mereka terentaskan dari kemiskinan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rakyat miskin di Indonesia pada bulan Maret 2011 adalah 30,02 juta jiwa. Dengan demikian bila uang sebesar 77 triliun dibagikan kepada mereka maka masing-masing bisa mendapatkan paling sedikit 2,4 juta rupiah. Tentu uang sebesar ini bagi rakyat miskin sangat berarti dan bahkan bisa menjadi modal untuk usaha guna menyambung hidup keluarga mereka.

Namun kenyataannya dana tersebut dibelanjakan dalam kebutuhan-kebutuhan yang bersifat konsumtif, sehingga tidak banyak memberikan nilai positif bagi kesejahteraan umat. Hanya segelintir orang, yaitu para pedagang yang dapat menikmati derasnya aliran dana umat.

Coba Anda kembali mengingat apa yang kemarin anda lakukan ketika merayakan Iedul Fitri. Berapa pasang baju baru yang Anda beli, sepatu atau sandal,dan berapa jenis makanan yang anda siapkan. Pada saat itu terkesan Anda seakan kekurangan baju yang layak pakai, dan seakan Iedul Fitri anda tidak sah bila tidak menyediakan hidangan dan kue yang beraneka ragam.

Tidak kah Anda ingat sabda Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا، فِى غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلاَ مَخِيْلَةِ

“Makan dan minum, berpakaian dan bersedekahlah, tanpa ada sikap berlebih-lebihan dan kesombongan” [HR Al-Bukhari]

Lebih ironis lagi, perayaan Iedul Fitri telah beralih fungsi dari perayaan yang bernuansa ibadah dan syukur atas nikmat terlaksananya ibadah puasa, menjadi ajang pamer. Pamer baju baru, kue, perhiasan, kendaraan baru dan lain sebagainya.

Wajar bila nilai-nilai keimanan dan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari raya dari tahun ke tahun semakin luntur. Terlebih kesadaran tentang nilai-nilai ubudiyah kepada Allah Azza wa Jalla. Nilai ubudiyah yang terpancar pada kepatuhan Anda untuk menahan diri dari makan dan minum selama satu bulan penuh, lalu pada hari raya Anda dilarang dari berpuasa. Sebulan kepatuhan Anda diwujudkan dalam menahan diri dari makan dan minum, dan pada hari raya sebalikya, Anda beribadah dengan makan dan minum.

Ubudiyah kepada Allah Azza wa Jalla bukan terletak pada amaliyah lahir semata, namun lebih pada kepatuhan Anda kepada segala perintah dan larangan, apapun bentuknya. Ubudiyah bisa berupa makan dan minum, sebagaimana dapat terwujud pada menahan diri dari keduanya.

Namun, apa boleh dikata bila ternyata umat Islam lebih menekankan pada penampilan lahir, seakan Iedul Fitri hanya sekedar bersenang-senang dengan pakaian baru, dan hidangan enak.

Saudaraku! Renungkan penuturan Ummu ‘Athiyah, semoga Anda dapat membandingkan perayaan Iedul Fitri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shabat dengan perayaan Anda.

قَالَتْ يَارَسُوْلَ اللَّهِ عَلَى إِحْدَانَا بَأسٌ إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهَا جِلْبَابٌ أَنْ لاَتَخْرُج؟ فَقَالَ لِتَلْبَسَهَا صَا حِبِتُهَا مِنْ جَلَبَابِهَا فَليَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Aku bertanya : Wahai Rasulullah, apakah kami berdosa bila kami tidak memiliki jilbab sehingga tidak turut menghadiri shalat Iedul Fitri? Maka Rasulullah menjawab : Hendaknya temannya meminjamkan jilbab kepadanya, sehingga ia turut serta mendapatkan kebaikan dan tercakup oleh doa-doa umat Islam” [HR Al-Bukhari]

Demikianlah, mereka merayakan Iedul Fitri, nilai-nilai ibadah lebih mereka tekankan, dibanding penampilan. Hari raya telah tiba, namun masih ada Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum mempunyai jilbab yang dapat digunakan menutup auratnya ketika keluar rumah.

Walau tidak memiliki jilbab, mereka tidak putus asa untuk turut serta menyemarakan ibadah Iedul Fitri sebagai upaya mendapatkan berkah kepatuhan kepada Allah Azza wa Jalla.

Andai umat Islam di zaman sekarang kembali menekankan pada nilai-nilai ibadah dibandingkan penampilan, niscaya potensi dan kekayaan mereka tidak dihambur-hamburkan seperti saat ini.

Saudaraku! Camkanlah pepatah Arab berikut ini:

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمِنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ

“Bukanlah ‘ied itu milik orang yang berbaju baru, namun ied adalah milik orang yang ketakwaannya maju nan menderu”.

PENUTUP
Semoga paparan sederhana ini menggugah iman Anda, sehingga anda tidak menghamburkan uang hasil jerih payah Anda dalam hal-hal yang kurang bernilai. Semoga tulisan ini mengingatkan Anda bahwa hasil kucuran keringat Anda selama ini alangkah indahnya bila Anda titipkan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Betapa banyak pintu-pintu surga yang terbuka di sekitar Anda, namun betapa sedikit yang berhasil Anda raih dengan harta kekayaan Anda.

Wallahu ta’ala a’lam bisshawab

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVI/1433/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
0 التعليقات

Panasnya Api Neraka

Assalamu'alaikum Alhamdulillah shalawat dan salam semoga dillimpahkan kepada Nabi Muhammad,  Saudaraku! mungkin anda pernah merasakan betapa panasnya ketika kaki anda menginjak puntung rokok! Kaki anda melepuh bukan? Atau mungkin anda pernah merasakan panasnya api dunia, sehingga sebagian dari tubuh anda mengalami luka bakar! Coba kembali anda mengingat-ingat perasaan anda kala itu. Pedih, panas dan duka menyelimuti hati anda, bukan?
Tahukah anda, bahwa panas api yang pernah anda rasakan itu terlalu kecil dan ringan bila dibanding api neraka .

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ). قَالُوا: وَاللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا  (متفق عليه)


"Api kalian ini yang biasa digunakan oleh manusia untuk membakar hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian (1/70) panasnya neraka Jahannam." Sepontan para sahabat berkata: Ya Rasulullah, sungguh demi Allah, api kita ini sudah cukup untuk menyiksa para pelaku kemaksiatan, (mengapa harus dilipat gandakan)? Beliau menjawab: "(tidak) sesungguhnya panasnya api neraka lebih panas dibanding panas api di dunia ini sebanyak enam puluh sembilah kali." Muttafaqun a'alaih!

Coba ingat kembali panas api yang pernah membakar kulit anda. Selanjutnya bayangkan, panas yang telah teringat kembali di benak anda itu ternyata dilipat gandakan sebanyak 70 kali, kira-kira rasanya seperti apa?
Menurut hemat anda, akan menjadi apa kulit dan tubuh anda bila terbakar dengan api yang begitu panasnya? Bagaimana rasanya kulit anda bila terkena sengatan api yang panasnya telah dilipatgandakan sebanyak 70 kali lipat?
Coba anda kembali membayangkan, andai sekujur tubuh anda terbakar dengan api yang panasnya berlipat ganda tersebut? Mungkinkah anda mampu bertahan hidup setelah sekujur tubuh anda mengalami luka bakar tersebut?
Anda penasaran ingin mengetahui apa yang akan terjadi pada kulit dan diri anda bila sampai merasakannya?

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُواْ الْعَذَابَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا( النساء 56)

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." An Nisa' 56

Anda tidak kuasa menahannya? Anda tidak ingin api itu menimpa tubuh anda? Anda bercita-cita untuk tidak turut mencicipi api yang demikian panas?
Sekarang ini adalah saatnya anda mewujudkan cita-cita itu. Bebaskan diri anda dari sengatan api neraka yang luar biasa panasnya.
Anda menjadi penasaran ingin tahu bagaimana caranya membebaskan diri anda dari sengatan api neraka? Mudah saudaraku!
Jagalah puasa anda dari segala hal yang dapat merusak atau mengurangi pahalanya. Dengannya, anda termasuk salah satu dari orang-orang yang dimaksudkan dari hadits ini:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا( متفق عليه)

"Barang siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan dirinya dari api neraka sejauh perjalanan 70 tahun." Muttafaqun 'alaih


Saudaraku! Betapa besar penyesalan yang anda alami bila semasa hidup di dunia senantiasa berpuasa, menahan lapar, haus, dan lelah, akan tetapi puasa anda tidak di terima Allah. Akibatnya, andapun tidak terjauhkan dari api neraka.
Apa penyebabnya? Temukanlah jawabannya pada sabda Nabi berikut:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ( رواه البخاري)

"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, niscaya Allah tidak akan menerima amalannya (yang hanya berupa) meninggalkan makanan dan minuman semata." Riwayat Bukhari
Pada riwayat lain, beliau bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ ، مَرَّتَيْنِ( رواه البخاري)

"Puasa adalah perisai, maka orang yang sedang berpuasa hendaknya tidak berkata-kata keji dan berperilaku layaknya orang-orang bodoh (semisal berteriak-teriak-pen). Dan bila ada seseorang yang memerangi atau mencacinya, hendaknya ia membela diri dengan berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa, 2 kali".) Riwayat Bukhari

وَقَالَ اِبْن الْعَرَبِيّ : إِنَّمَا كَانَ الصَّوْم جُنَّة مِنْ النَّار لِأَنَّهُ إِمْسَاك عَنْ الشَّهَوَات ، وَالنَّار مَحْفُوفَة بِالشَّهَوَاتِ . فَالْحَاصِل أَنَّهُ إِذَا كَفّ نَفْسه عَنْ الشَّهَوَات فِي الدُّنْيَا كَانَ ذَلِكَ سَاتِرًا لَهُ مِنْ النَّار فِي الْآخِرَة

Ibnul Araby Al Maliky berkata: "Sesungguhnya puasa itu berperan sebagai perisai dari siksa api neraka, karena hakikat puasa ialah menahan diri dari seruan syahwat. Sedangkan neraka diselimuti oleh seruan-seruan syahwat. Dengan demikian bila anda berhasil menahan diri dari godaan syahwat anda semasa di dunia, maka amalan anda ini akan menjadi tabir pelindung bagi diri anda dari sengatan siksa api neraka di akhirat." (Fathul Bari oleh Ibnu hajar Al Asqalaani 4/104)


Inilah yang akan merusak puasa anda, karenanya, bersama ini saya mengucapkan: selamat berjuang menjaga puasa anda dari segala seruan syahwat anda. Doa saya, semoga Allah Ta'ala memudahkan perjuangan anda. Shalawat dan salam tidak lupa untuk kita haturkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Wassalamu'alaikum
Sumber  : status facebook DR. Muhammad Arifin Badri. MA.

0 التعليقات

Sifat-sifat Bidadari

Sesungguhnya segala kenikmatan yang ada di surga tidak bisa dikhayalkan oleh benak kita.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ اللهُ : أَعْدَدَتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَر، وَاقْرَأُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Dari Abu Huroiroh, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

“Allah telah berfirman : Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang sholeh (di surga) kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata-mata, dan tidak pernah terdengar oleh telinga-telinga, dan tidak pernah terbetik dalam benak manusia”,

Jika kalian ingin maka silahkan bacalah (firman Allah) :

فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan” (QS As-Sajdah : 17) (HR Al-Bukhari no 3072 dan Muslim no 7310)

Apa saja kenikmatan yang ada di surga tidak bisa dibayangkan oleh kita. Meskipun nama-nama kenikmatan-kenikmatan yang ada di surga kita ketahui sebagaimana kenikmatan-kenikmatan yang ada di dunia, akan tetapi hakekat keduanya berbeda. Yang sama hanyalah nama, adapun hakekat berbeda. Di surga ada anggur, delima, kurma dan buah-buah yang lain akan tetapi tidak sama hakekatnya dengan anggur, kurma, dan delima yang ada di bumi. Sebagaimana hakekatnya berbeda, demikian juga kelezatan yang dirasakan berbeda. Demikian juga benda-benda yang lain yang ada di surga, seperti emas, perak, mutiara, sungai, khomr, madu, istana, dan lain-lain, hakekatnya dan kelezatannya semua berbeda dengan apa yang ada di bumi.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa pernah berkata:

لَيْسَ فِى الْجَنَّةِ شَيْءٌ مِمَّا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ الأَسْمَاءَ

“Tidak ada sesuatupun yang ada di surga dari perkara-perkara yang ada di dunia kecuali hanya sekedar nama-nama” (Atsar ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 2188)

Demikian pula dengan wanita surga berbeda dengan wanita dunia, meskipun namanya sama-sama wanita akan tetapi hakekat diantara keduanya sangat jauh berbeda.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata tentang wanita surga :

وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيْحًا وَلَنَصِيْفُهَا - يَعْنِي الْخِمَارَ - خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Kalau seandainya seorang wanita surga muncul ke dunia maka dia akan menyinari antara bumi dan langit, dan akan memenuhi bau yang semerbak antara bumi dan langit, dan sungguh kerudungnya lebih baik daripada dunia dan seisinya” (HR Al-Bukhari no 6199)

Tentu jika kita membaca hadits ini maka kita tidak akan mampu untuk membayangkan tentang bidadari tersebut. Bidadari yang begitu bercahaya dan begitu harum.. bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan bahwasanya kerudung yang ada di atas kepala bidadari ternyata lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Padahal kita tahu bahwa di antara isi dunia adalah kecantikan-kecantika wanita dunia…akan tetapi ternyata kecantikan-kecantikan para wanita dunia masih kalah dengan kerudung bidadari. Maka bagaimana lagi dengan wajah bidadari…???

Dan jika kita menelaah hadits-hadits yang lain tentang sifat-sifat bidadari maka kita akan semakin yakin akan ketidakmampuan kita untuk membayangkan hakekat bidadari.

Bagaimana kita bisa membayangkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bidadari berikut ini:

كَبِدُهَا مِرْآتُهُ وَكَبِدُهُ مِرْآتُهَا

“Hati sang bidadari merupakan cermin bagi sang lelaki dan hati sang lelaki juga menjadi cermin bagi sang bidadari”
.(Hadits ini di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih at-Targhiib wa at-Tarhiib 3/227 no 3591)

Demikian juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يُرَى مُخُ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ لَحْمِهَا مِنَ الْحُسْنِ

“Bidadari tersebut terlihat sum-sum tulang betisnya di belakang dagingnya karena indahnya” (HR Al-Bukhari no 3074 dan Muslim  no 7330)

Ali Al-Qoori berkata:

((مِنَ الْحُسْنِ)) أَيْ مِنْ أَجْلِ لَطَافَةِ خِلْقَتِهِنَّ، قَالَ الطِّيْبِي رَحِمَهُ اللهُ : هُوَ تَتْمِيْمٌ صَوْنًا مِنْ تَوَهُّمِ مَا يُتَصَوَّرُ مِنْ تِلْكَ الرُّؤْيَةِ مِمَّا يَنْفُرُ عَنْهُ الطَّبَعُ، وَالْحُسْنُ هُوَ الصَّفَاءُ وَرْقَّةُ الْبَشَرَةِ وَنُعُوْمَةُ الْأَعْضَاءِ

“Sabda Nabi ((Karena indahnya)) yaitu karena lembutnya dan halusnya tubuh para bidadari. At-Thiibi rahimahullah berkata : Sabda Nabi ini merupakan penyempurnaan untuk menjaga agar jangan sampai disalah pahami, disangka ini merupakan pandangan yang dirasa ngeri oleh tabi’at. Dan sabda Nabi ((keindahan)) yaitu bersih dan lembutnya kulit serta halusnya anggota-anggota tubuh” (Mirqootul Mafaatiih 16/226)

Tentang putihnya bidadari, Allah berfirman :

كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَكْنُونٌ (٤٩)

“Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik”
(QS As-Shooffaat : 49)

Ibnu Abbas berkata اللُّؤْلُؤْ الْمَكْنُوْنُ ((yaitu mutiara-mutiara putih yang tersimpan)) (lihat Ad-Dur Al-Mantsuur 7/89)

Yang hal ini menunjukkan bagaimana sempurnanya putihnya para bidadari, karena putihnya  mereka adalah putih yang terjaga dari segala sentuhan. Ibarat mutiara-mutiara yang putih yang tersimpan kokoh dalam cangkangnya, terjaga dari segala sentuhan, terjaga dari sinar matahari, terjaga dari segala sesuatu yang bisa mencoreng murninya dan bersihnya warna putih tersebut. Demikian pula para bidadari, putih tubuh mereka sempurna.

Allah telah mengabungkan sifat putihnya bidadari dan juga bening dan bersihnya bidadari dalam firman

كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ (٥٨)

“Seakan-akan para bidadari itu permata yakut dan mutiara” (QS Ar-Rahman : 58).

Qotaadah dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahumallahu berkata tentang ayat ini :

فِي صَفَاءِ الْيَاقُوْتِ وَبَيَاضِ اللُّؤْلُؤِ

“Para bidadari seperti permata dalam hal bening tubuh mereka dan seperti mutiara dalam putihnya” (Lihat Ad-Dur Al-Mantsuur 7/712)

Putih dan beningnya bidadari tersebut ternyata terlihat di balik 70 gaun indah yang dipakainya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لِكُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ عَلَى كُلِّ زَوْجَةٍ سَبْعُوْنَ حُلَّةً يَبْدُو مُخُ سَاقِهَا مِنْ وَرَائِهَا

“Bagi setiap penghuni surga dua istri (dari bidadari), yang masing-masing bidadari tersebut memakai 70 gaun, nampak sum-sum betisnya di balik 70 gaun tersebut” (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1736)

Dalam hadits yang lain

إِنَّ الْمَرْأَةَ مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُرَى بَيَاضُ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ سَبْعِيْنَ حُلَّةً

“Sesungguhnya seorang wanita surga sungguh terlihat putih betisnya di balik 70 gaun” (HR At-Thirmidzi no 2533 ini didho’ifkan oleh Syaikh Al-Albani)

Maka bagaimana kita bisa mengkhayalkan ini semua, bagaimana bisa beningnya tubuh bidadari (bahkan sum-sum tulang betisnya) bisa terlihat di balik 70 gaun…?? Seperti apakah putihnya kulit bidadari sehingga bisa terlihat di balik 70 gaun…??.

Tentunya akal kita tidak sampai untuk bisa mengkhayalkan ini semua…jangankan untuk mengkhayalkan bidadari…bahkan untuk mengkhayalkan kerudungnya saja (yang dikatakan oleh Nabi bahwa kerudung bidadari lebih baik dari dunia dan seisinya) kita tidak mampu…untuk mengkhayal gaun yang dipakai bidadari bagaimana modelnya dan dari apa bahannya kita tidak mampu…, maka bagaimana lagi dengan bidadari itu sendiri??!!.

Bayangkan jika anda adalah sang penghuni surga…, lantas anda bertemu dengan sang bidadari… lantas andapun melepaskan 70 gaun sang bidadari tersebut satu persatu… sementara bening dan putihnya betis bidadari sudah terlihat…, bagaimana anda tidak bersemangat untuk melepaskan gaun-gaun indah tersebut..??!!

Selain itu kemampuan kita untuk mengkhayal terbatas… kemampuan kita mengkhayal adalah didukung oleh penangkapan panca indra kita, kita hanya bisa menganalogikan khayalan kita dengan apa yang pernah kita tangkap dengan panca indra kita. Karenanya kita hanya bisa mampu menghayal wanita tercantik yang pernah kita lihat di dunia ini, lebih dari itu maka otak kita tidak mampu. Sebagaimana jika kita memaksakan diri kita untuk menghayalkan bagaimana tampannya Nabi Yusuf ‘alaihi salam yang menjadikan para wanita mengiris-ngiris tangan-tangan mereka dengan tidak sadar karena takjub dengan ketampanan beliau ‘alaihi salam, maka kita tidak akan mampu menghayalkan ketampanan beliau. Kita hanya bisa mengkhayalkan lelaki tertampan yang pernah kita lihat di dunia ini.

Karenanya sifat-sifat bidadari yang akan dijelaskan dalam tulisan ini hanyalah sebagai penggambaran akan cantik dan moleknya para bidadari, akan tetapi hakekat yang sebenarnya tidak akan bisa kita khayalkan…kita hanya bisa mengetahui hekekat para bidadari yang sebenarnya jika kita melihat langsung bidadari-bidadari tersebut… Yaa Allah mudahkanlah kami untuk melihat mereka dan mendekap mereka…aaamiiin… yaa Allah ampunilah dosa-dosa kami, pandangan kami yang tidak kami jaga…, janganlah Engkau menjadikan dosa-dosa kami sebagai penghalang kami untuk mengecup bibir para bidadari…(bersambung pada topik selanjutnya : Sya’ir Ibnu Qoyyim tentang sifat-sifat bidadari)
Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 21-10-1432 H / 19 September 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com
0 التعليقات

Inilah Syair Yang Membuat Imam Ahmad Rahimahullah Terenyuh Menangis

Syair ini pernah membuat Imam Ahmad -rohimahulloh- terenyuh menangis:

إذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أمَا استحييتَ تَعصينِي … وتُخفي الذَّنبَ عن خَلْقي وبالعصيان تأتيني
Jika Rabb-ku mengatakan kepadaku: “Tidak malukah kau bermaksiat kepada-Ku?!
Engkau menutupi dosa dari para makhluk-Ku, tapi malah dg kemaksiatan kau mendatangi-Ku!”

فكيف أجيب يا ويحي ومن ذا سوف يحميني … أسلي النفس بالآمال من حين إلى حينِ
Maka bagaimana aku menjawabnya, dan siapa yg mampu melindungiku…
Aku terus menghibur diri dengan angan-angan (dunia) dari waktu ke waktu…

وأنسى ما وراء الموتِ ماذا بعدُ تكفيني … كأني قد ضمِنْتُ العيشَ ليس الموت يأتيني
Tp aku lalai dg perihal setelah kematian, tentang apa yang dapat mencukupiku setelah itu…
Sepertinya aku akan hidup terus, dan maut tidak akan menghampiriku…

وجاءت سكرة الموتِ الشديدةُ من سيَحْميني … نظرتُ إلى الوجوهِ أليسَ منهم من سيفديني
(Saat) sakaratulmaut yg dahsyat itu benar-benar datang… Siapakah yang mampu melindungiku…
Aku melihat wajah orang-orang… Tidakkah ada diantara mereka yang mau menebusku?!…

سأُسْأَل ما الذي قدَّمتُ في دنيايَ يُنجيني … فكيف إجابتي من بعدُ ما فرَّطتُ في ديني
Aku akan ditanya, tentang apa -yang kukerjakan di dunia ini- yang dapat menyelamatkanku…
Maka bagaimanakah jawabanku setelah aku lupakan agamaku…

ويا ويحي ألم أسمع كلام الله يدعوني … ألم أسمع بما قد جاء في قافٍ وياسينِ
Sungguh celaka aku… Tidakkah ku dengar firman Alloh yang menyeruku?!
Tidakkah pula ku dengar ayat-ayat  yang ada di Surat Qoof dan Yasin itu?!

ألم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع والديني … ألم أسمع منادي الموتِ يدعوني يناديني
Bukankah ku dengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkan, dan hari pembalasan?!
Bukankah ku dengar pula panggilan kematian yg terus melayangkan padaku panggilan dan seruan?!

فيَا ربَّاه عبدٌ تائبٌ من ذا سيأويني … سوى ربٍّ غفورٍ واسعٍ للحقِّ يهديني
Maka ya Robb… akulah hambamu yang bertaubat… Tidak ada yang dapat melindungiku,
Melainkan Robb yg maha pengampun, lagi maha luas karunianya… Dia-lah yg menunjukkan hidayah padaku

أتيتُ إليك فارحمني وثقِّل فِي موازينِي … وخفف في جزائي أنت أرجى من يُجازيني
Aku telah datang kepada-Mu… maka rahmatilah aku, dan beratkanlah timbanganku…
Ringankanlah hukumanku… Sungguh Engkaulah Yang paling kuharapkan pahalanya untukku…

Sumber Addariny Wordpress.com
0 التعليقات

NGEBUTLAH SECEPAT MUNGKIN

Semua jalan sudah dilengkapi dengan mesin atau kamera pengawas kecepatan yang sudah dibatasi.

kecuali jalan menuju Allah Azza Wajalla , justru semua bertuliskan hanya satu "وسارعوا" bersegeralah , ngebutlah secepat mungkin.

وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السماوات والأرض أعدت للمتقين

(آل عمران :133)

" BERSEGERALAH KALIAN MENUJU AMPUNAN DARI ROBB KALIAN DAN SURGA YANG LUASNYA SELUAS LANGIT DAN BUMI , DISEDIAKAN UNTUK ORANG-ORANG YANG BERTAQWA". (AS.Ali 'Imran : 133)

0 التعليقات

TANGISAN-TANGISAN NABI shallallahu 'alaihi wa sallam

Hati terasa keras…

Nasehat sudah sering terdengar…. lantunan ayat…sentuhan sabda-sabda Nabi…petuah-petuah para ulama….akan tetapi…??

Kenapa bisa demikian…?? Akankah hati telah kaku karena telah tenggelam dalam kilauan kemaksiatan…terlena dalam gemerlap dunia…??

Akankah mata ini mengalirkan tangisannya…jika hati telah keras membatu..?

Hati mencari kekhusyu'an dalam sholat…akan tetapi kekhusyuan lari menjauh seakan-akan memusuhi hati



Diantara prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jam'ah adalah naik turunnya keimanan seseorang, naik karena ketaatan, dan turun karena kemaksiatan. Karenanya hendaknya seorang muslim memperhatikan imannya, jika ia merasa turunnya keimanannya maka hendaknya ia berusaha untuk memperbaruinya. Karena turunnya iman mempengaruhi kondisi hati, semakin turun keimanan semakin keraslah hati, dan semakin sulit tersentuh dan terpengaruh dengan ayat-ayat Al-Quraan maupun nasehat-nasehat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

إنّ الإِيمانَ لَيَخْلَقُ في جَوْفِ أحدِكُمْ كما يَخْلَقُ الثَّوْبُ فاسْأَلُوا اللَّهَ تعالى أن يُجَدِّدَ الإِيمانَ في قُلُوبِكُمْ

"Sesungguhnya iman akan usang di dalam tubuh kalian sebagaimana usangnya baju, maka hendaknya kalian memohon kepada Allah agar Allah memperbarui keimanan dalam hati-hati kalian"
(HR Al-Haakim no 5 dan dihasankan oleh Al-Haitsami dalam Maj'ma' Az-Zawaaid 1/212 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1585)

Karenanya terkadang cahaya hati seorang mukmin diliputi oleh kabut kemaksiatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنَ الْقُلُوْبِ قَلْبٌ إِلاَّ وَلَهُ سَحَابَةٌ كَسَحَابَةِ الْقَمَرِ ، بَيْنَا الْقَمَرِ مُضِيْءٌ إِذْ عَلَتْهُ سَحَابَةٌ فَأَظْلَمَ ، إِذْ تَجَلَّتْ عَنْهُ فَأَضَاءَ

"Tidak ada satu hatipun kecuali ada semacam awan sebagaimana awan yang menutupi rembulan. Tatkala rembulan sedang bersinar tiba-tiba ada segumpal awan yang menutupinya hingga menjadi gelap. Jika telah pergi meninggalkan rembulan maka (kembali) bersinar" (Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim di Al-Hilyah 2/196 dan dihasankan oleh Al-Albani no 2268)

Terkadang segumpal awan datang dan menutupi cahaya rembulan, akan tetapi setelah beberapa waktu maka pergilah gumpalan awan tersebut dan jadilah rembulan bersinar kembali di langit. Demikian pula dengan hati seorang mukmin, terkadang cahayanya tertutup dengan kabut kemaksiatan, akan tetapi jika ia berusaha untuk meningkatkan keimanannya dengan meminta pertolongan kepada Allah maka akan pergilah kabut kemaksiatan tersebut dan kembalilah hatinya bercahaya.

Yang jadi permasalahan jika hati tidak menyadarinya, atau bahkan menyadarinya akan tetapi membiarkan dirinya berlezat-lezatan dengan kemaksiatan dan dosa sehingga membiarkan kabut kemaksiatan tersebut bertumpuk-tumpuk…jadilah hati menjadi kaku dan keras…

Diantara perkara yang bisa melembutkan hati yang telah terlanjur keras membatu adalah menangis….merenungkan akhirat untuk menangis…



TANGISAN NABI DALAM SHOLAT


Dari 'Atoo beliau berkata, "Aku dan 'Ubaid bin 'Umair menemui Aisyah, maka 'Asiyah berkata kepada 'Ubaid bin 'Umair,

قَدْ آنَ لَكَ أَنْ تَزُورَنَا؟

"Sudah saatnya sekarang engkau mengunjungi kami?"

Maka 'Ubaid bin 'Ubair menjawab,

أَقُولُ يَا أُمَّهْ كَمَا قَالَ الْأَوَّلُ: زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا

"Wahai ibuku…, aku berkata sebagaimana perkataan orang-orang terdahulu "Jarangkanlah menunjungi maka niscaya akan menambah kecintaanmu !"

Aisyah berkata,

دَعُونَا مِنْ رَطَانَتِكُمْ هَذِهِ

"Tinggalkan bahasa asingmu (*pepatah) itu"

'Ubaid bin 'Umair berkata,

أَخْبِرِينَا بِأَعْجَبِ شَيْءٍ رَأَيْتِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،

"Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang paling menakjubkan yang pernah engkau lihat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?"

Aisyah pun terdiam, kemudian ia berkata,

لَمَّا كَانَ لَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي، قَالَ: «يَا عَائِشَةُ ذَرِينِي أَتَعَبَّدُ اللَّيْلَةَ لِرَبِّي» قُلْتُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّ قُرْبَكَ، وَأُحِبُّ مَا سَرَّكَ، قَالَتْ: فَقَامَ فَتَطَهَّرَ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي، قَالَتْ: فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ حِجْرَهُ، قَالَتْ: ثُمَّ بَكَى فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ لِحْيَتَهُ، قَالَتْ: ثُمَّ بَكَى فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ الْأَرْضَ، فَجَاءَ بِلَالٌ يُؤْذِنُهُ بِالصَّلَاةِ، فَلَمَّا رَآهُ يَبْكِي، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ تَبْكِي وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ؟، قَالَ: «أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا، لَقَدْ نَزَلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ آيَةٌ، وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْ فِيهَا {إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ... }» الْآيَةَ كُلَّهَا [آل عمران: 190]. [5: 47]

"Di suatu malam Rasulullah berkata kepadaku, "Wahai Aisyah…, biarkanlah aku beribadah kepada Robku mala mini" Aku berkata, "Demi Allah, sungguh aku sangat suka berdekatan denganmu, (akan tetapi) aku suka apa-apa yang membuatmu senang" Maka Nabipun berdiri dan bersuci lalu beliau sholat. Maka beliau terus menangis hingga tangisan beliau membasahi pangkuan beliau (*tatkala duduk)…, kemudian beliau terus menangis hingga membasahi janggut beliau.., kemudian beliau terus menangis hingga membasahi lantai. Lalu datang Bilal mengumandangkan adzan sholat subuh. Tatkala Bilal melihat Nabi menangis maka Bilalpun berkata, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau menangis?, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?".
Nabi berkata,

«أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا، لَقَدْ نَزَلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ آيَةٌ، وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْ فِيهَا

"Tidakkah aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?, sungguh telah turun kepadaku malam ini sebuah ayat, celaka orang yang membacanya dan tidak merenungkannya"


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal…."
(QS Ali Imron : 190 dst) (HR Ibnu Hibbaan dalam shahihnya no 620, dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 68 dan juga oleh Syu'aib Al-Arnauuth)

Lihatlah…bagaimana kondisi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala berdiri di hadapan Allah dengan melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. Sebuah ayat membuat beliau menangis…menangis… dan menangis…. hingga tangisan beliau membasahi lantai…, beliau menangis hingga terbit fajar. Padahal beliau telah diampuni dosa-dosa beliau baik yang telah lalu maupun yang akan datang…bahkan telah dijamin masuk surga…akan tetapi demikianlah hati beliau bersama Al-Quran.

Lantas…bagaimana dengan kita …yang tidak tahu apakah dosa-dosa kita yang bertumpuk-tumpuk diampuni atau tidak??

Abdullah bin Asy-Syikkhiir radhiallahu 'anhu berkata

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِنَا وَفِي صَدْرِهِ أَزِيْزٌ كَأَزِيْزِ الْمِرْجَلِ مِنَ الْبُكَاءِ

"Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami kami dan di dada beliau ada suara sebagaimana suara air yang sedang mendidih karena tangisan" (HR Abu Dawud no 904, At-Thirmidzi di Syamaail no 321, dan An-Nasaai no 1214. Ibnu Hajar menyatakan bahwa isnadnya kuat (Fathul Baari 2/206) dan dishahihkan oleh Al-Albani

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda:

شَيَّبَتْنِي هُوْدٌ و ( الْوَاقِعَة ) وَ(الْمُرْسَلاَت ) وَ(عَمَّ يَتَسَاءَلُوْنَ) وَ(إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ)

"Surat Huud, surat Al-Waqi'ah, surat Al-Mursalaat, surat 'An-Naba, dan surat Kuwwirot telah memutihkan rambutku"
(HR At-Thirmidzi 3297 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 955)

Sungguh surat-surat yang dibaca oleh Nabi ini telah memutihkan rambut Nabi sebelum waktunya. Pengaruh isi dari surat-surat tersebut bukan hanya mempengaruhi hati Nabi saja, bahkan mempengaruhi jasad belia…rambut beliau.

Demikian pula para sahabat tatkala sholat nampak pengaruh al-Qur'an yang mereka lantunkan.

Lihatlah bagaimanakah Abu Bakar yang jika sholat beliau tidak bisa menahan air mata beliau.

Aisyah berkata :

لمَاَّ دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتِي قَالَ : مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلَِّ بِالنَّاسِ،

Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke rumahku (*yaitu tatkala sakit yang menyebabkan beliau meninggal), ia berkata : "Perintahlah Abu Bakar agar menjadi imam sholat orang-orang"

Maka Aisyah berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيْقٌ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ لاَ يَمْلِكُ دَمْعَهُ فَلَوْ أَمَرْتَ غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang lembut, jika ia membaca AL-Qur'an maka ia tidak bisa menahan air matanya. Kalau seandainya engku memerintahkan selain Abu Bakar untuk menjadi imam…." (HR Al-Bukhari no 664 dan Muslim no 417).

Dalam riwayat yang lain Aisyah berkata:

إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يَسْمَعِ النَّاسُ مِنَ الْبُكَاءِ

"Sesungguhnya kalau Abu Bakar berada di posisimu (*menggantikanmu sebagai imam) maka para makmum tidak bisa mendengar bacaannya karena tangisannya" (HR Al-Bukhari no 7303)

Demikian pula Umar bin Al-Khottoob, Al-Hasan berkata,

أَنَّ عُمَرَ قَرَأَ: { إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ }، فَرَبَا لَهَا رَبْوَةً عِيْدَ مِنْهَا عِشْرِيْنَ يَوْمًا

"Umar bin Al-Khottoob pernah membaca firman Allah "Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya" (QS At-Thuur :7-8), maka beliaupun sesak nafas hingga akhirnya beliau dibesuk karenanya selama 20 hari" (Diriwayatkan oleh Ibnu Katsiir dengan sanadnya di Tafsirnya, pada tafsir ayat ini)

'Ubaid bin 'Umair berkata,

صَلَّى بِنَا عُمَرُ صَلاَةَ الْفَجْرِ فَقَرَأَ سُوْرَةَ يُوْسُفَ حَتَّى إِذَا بَلَغَ : ( وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ ) [ يوسف : 84 ] بَكَى حَتَّى انْقَطَعَ فَرَكَعَ

"Umar bin Al-Khottoob mengimami kami sholat subuh, lalu ia membaca surat Yusuf hingga akhirnya sampai pada ayat "Dan kedua mata Ya'qub menjadi putih karena Kesedihan dan Dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)" (QS Yusuf : 84), maka Umarpun menangis hingga tidak mampu melanjutkan bacaannya lalu iapun ruku" (Syarah Shahih Al-Bukhaari karya Ibnu Batthool 10/281)

Abdullah bin Syaddaad berkata:

سَمِعْتُ نَشِيْجَ عُمَرَ وَأَنَا فِي آخِرِ الصُّفُوْفِ يَقْرَأُ {إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللهِ}

"Aku mendengar isakan tangisan Umar, padahal aku berada di saf yang paling terakhir, Umar membaca ayat: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku" (QS Yusuf : 86)"

(Atsar ini mu'alaaq disebutkan oleh Al-Bukhari dalam shahihnya 1/144 sebelum hadits no 716 pada bab إِذَا بَكَى الإِمَامُ فِي الصَّلاَةِ "Jika Imam menangis dalam sholat", Dan Ibnu Hajar telah menjelaskan dalam fathul bari 2/206 bahwasanya atsar ini telah disambung oleh Sa'iid bin Manshuur, dan sholat Umar tersebut adalah sholat subuh)

Bersambung….

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 08-03-1433 H / 31 Januari 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com
0 التعليقات
 
Copyright © 2011. Abu Nawwaf Rosyidi - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger