Headlines News :
Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Wahai penutut Ilmu Dengarkanlah Nasihat Seorang Syaikh Kepada Muridnya InI


Apa Kamu Ridha Derajatmu Lebih Rendah Dari Hewan
Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaeli Hafidzahullah menuturkan :
Diantara nasehat guruku yang sangat aku kagumi , Salah seorang dari guruku menasehatiku mengatakan :


Wahai Sulaiman : jangan kau ridhai dirimu lebih rendah dari hewan 
Aku katakan : bagaimana itu ? 
Guruku mengatakan : jangan sampai engkau merendahkan ulama’ rabbani yang mereka dikenal diatas Sunnah dan Tauhid .

Akan tetapi hendaklah engkau terus menyebut keutamaan mereka dan memintakan ampun untuk mereka , dan sungguh Nabipun shallallahu alaihi wasallam bersabda :

و إنَّ العالمَ لَيستغفرُ له مَن في السماواتِ و من في الأرضِ ، حتى الحيتانُ في الماءِ ...(صحيح الترمذي الألباني : 2682)
Sesungguhnya orang ‘alim itu beristigfar untuknya penduduk langit dan bumi , sampai ikan yang didalam air….(shahih At-Tirmidzi , Al-Albani : 2682)
Dalam hadits yang lain : 

إِنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ وملائِكتَهُ ، و أهلَ السمواتِ والأرضِ ، حتى النملةَ في جُحْرِها ،وحتى الحوتَ ، ليُصَلُّونَ على معلِّمِ الناسِ الخيرَ (صحيح الجامع الألباني : 4213)

Sesungguhnya Allah Azza Wajalla , para malaikatnya dan penduduk langit dan bumi , sampai semut didalam lubangnya dan ikan hut , bershalawat untuk orang yang mengajarkan manusia kebaikan (Shahih Aljami’ Al-Albani : 4213)
Sumber : Syarh Alwashiyyah As-shugra :101
(diterjemahkan dari group WA Multaqa Ad-Du’aat , )


Wahai saudaraku yang kucintai…inilah nasihat emas yang seharusnya ditanam dalam dada setiap penuntut ilmu , jadikanlah ini sebagai nasihat untuk dirimu , jangan pernah membicarakan kekukarangan para guru , justru bila mendapatkan ada kesalahan mereka mintakanlah untuknya ampunan , toh kita sendiri juga masih sangat jahil dan banyak kesalahan , janganlah menambah kejahilan dan kesalahan dengan membicarakan kesalahan orang lain .

Saudaraku …sungguh sangat dan sangat banyak ilmu din ini yang belum kita pahami dan ketahui , maka sibukkanlah diri untuk menutup kekurangan ini dengan sibuk menuntut ilmu.
Abu Nawwaf Akhyar Rasyidi
Thaif 22/4/1436 H
0 التعليقات

Buah berbakti Kepada Ayah

Al-ustadz Firanda MA menuturkan :
Sahabat dekatku (seorang polisi di kota Madinah) bercerita kepadaku kemarin malam di masjid Nabawi setelah isya, tanggal 19 Desember 2013):

"Pamanku, kakak ayahku adalah seorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Pada suatu hari –seperti kebiasaannya- ia menyiapkan sendal/sepatu dan memakaikan sendal ke kedua kaki ayahnya. Namun pada saat itu, ada sesuatu hal yang lain yang tidak biasa dilakukan oleh pamanku. Tatkala ia memakaikan kedua sendal/sepatu ke kedua kaki ayahnya, pamanku terus memandang wajah ayahnya sambil memakaikan kedua sendalnya. Maka sang ayahpun tertegun, dan berkata bahkan menghardiknya, "Kenapa engkau memandangku terus?". Maka pamanku –yang tatkala itu masih muda belia dan belum menikah- berkata : "Wahai ayahanda, aku ingin puas memenuhi kedua mataku dengan memandang wajahmu…"

Mendengar jawaban pamanku maka sang ayah langsung sujud syukur seketika itu juga lalu mendoakan agar Allah memberkahi pamanku, memberkahi hartanya, dan anak keturunannya.
Sekarang pamanku masih hidup, sedangkan ayahku sudah meninggal, padahal pamanku lebih tua dari ayahku. Pamanku setelah itu menikahi 4 orang wanita, dan dianugrahi 29 anak laki-laki, anak perempuan entah berapa. Dan rizkinya dilapangkan oleh Allah ta'ala.

Jika pamanku membeli makanan di kios, selalu ia membeli sayuran berkarton-karton, membeli roti berdos-dos, membeli sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sehingga pemilik kios kaget melihat pamanku, seakan-akan ia mau menyiapkan makanan untuk orang sekampung?!. Ini semua karena pamanku adalah keluarga yang sangat besaaar…!

Anak lelaki yang paling kecil seumuran denganku (yaitu sekitar 45 tahunan). Yang menakjubkan, seluruh anak-anaknya berbakti kepada pamanku".

Demikianlah tuturan sahabatku, mengingatkan kepada kita bahwa berbakti bukan hanya kepada ibu, ayahpun memiliki hak yang besar untuk kita berbakti. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan menjadikan anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita.

Copas dari www.firanda.com
0 التعليقات

Contoh Istri Sholihah (Zainab binti Judair, Istri Syuraih Al-Qodli)


Suatu hari Syuraih Al-Qodhi (sang hakim) bertemu dengan Asy-Sy'abi, maka Asy-Sya'bi bertanya kepadanya tentang kondisinya di rumahnya. Maka Syuraih berkata : "Semenjak 20 tahun akan tidak pernah melihat sesuatu perkara dari istriku yang membuatku marah".

Asy-Sya'bi berkata : "Kok bisa demikian?"

Syuraih berkata : "Sejak malam pertama pernikahan aku menemui istriku maka aku melihat pada dirinya kecantikan yang sangat menggoda, kemolekan yang langka, maka aku berkata dalam diriku, "Aku akan berwudhu dan sholat dua raka'at, untuk bersyukur kepada Allah". Tatkala aku salam dari sholatku ternyata aku dapati istri menjadi makmum di belakangku. Tatkala aku menoleh kembali ternyata ia telah berada di atas tempat tidur. Lalu akupun mengulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata, "Sebentar, tetaplah di posisimu wahai Abu Umayyah (kunyah panggilan Syuraih)", lalu ia berkata, "Segala puji bagi Allah, aku menyanjungNya, dan aku memohon pertolonganNya, serta aku bersholawat kepada Muhammad dan keluarganya, kemudian dari pada itu :

Sesungguhnya aku adalah seorang wanita asing yang tidak mengetahui tentang akhlakmu, maka tolong jelaskanlah kepadaku apa yang engkau sukai agar aku bisa kerjakan dan apa yang engkau benci untuk aku jauhi". Lalu ia berkata, "Sesungguhnya ada pada kaummu wanita yang bisa engkau nikahi, dan pada kaumku ada lelaki yang sekufu (setara) denganku (yang bisa menikahiku), akan tetapi jika Allah telah memutuskan keputusanNya maka yang terjadi adalah keputusanNya. Engkau telah memiliki diriku, maka lakukanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu, (yaitu) menjalani pernikahan dengan pergaulan yang baik atau menceraikan dengan cara yang baik. Demikianlah apa yang aku haturkan kepadamu, dan memohon ampunan dari Allah untuk diriku dan untukmu"

Syuraih berkata, "Maka demi Allah wahai Asy-Sya'bi-, istriku menjadikan aku akhirnya untuk berkhutbah pada saat itu. Maka aku berkata :

"Segala puji bagi Allah, aku menyanjungNya dan memohon pertolonganNya, serta aku bersholawat kepada Muhammad dan keluarganya. Kemudian daripada itu :

Sesungguhnya engkau –wahai istriku- telah mengucapkan suatu perkataan yang jika engkau tegar di atasnya maka merupakan kebaikanmu, akan tetapi jika hanya merupakan pengakuan belaka maka akan menjadi boomerang bagimu. Sesungguhnya aku suka ini dan itu, dan aku membenci ini dan itu, maka apa saja kebaikan yang engkau lihat maka sebarkanlah, dan keburukan apa saja yang engkau lihat maka tutuplah".

Istriku berkata, "Bagaimana sikap yang kau sukai dalam kunjungan keluargaku?". Aku berkata, "Aku tidak ingin kunjungan mereka menjadikan aku bosan". Istriku berkata, "Siapa tetanggamu yang engkau sukai untuk masuk di rumahmu agar aku mengizinkannya, dan siapa tetanggamu yang engkau benci ?"

Aku berkata, "Banu Fulan orang-orang yang sholeh, dan banu fulan orang-orang yang buruk"

Syuraih berkata, "Maka malam itu akupun tidur bersamanya dengan malam yang terindah, dan aku hidup bersamanya setahun yang aku tidak melihat sesuatupun darinya kecuali yang aku sukai. Tidaklah datang hari bersamanya kecuali lebih baik dari hari sebelumnya. Tatkala genap setahun aku hidup bersamanya, suatu hari aku baru pulang dari tempat pengadilan (karena Syuraih adalah seorang hakim-pen) tiba-tiba di rumahku ada seorang wanita tua yang memerintah-merintah dan melarang-larang. Maka aku bertanya, "Siapa wanita ini?", maka istriku berkata kepadaku, "Itu adalah ibu istrimu". Lalu ibunya menoleh kepadaku dan bertanya kepadaku, "Bagaimana kau dapati istrimu?". Aku berkata, "Istri yang terbaik". Ibunya berkata, "Wahai Abu Umayyah, jika engkau melihat keraguan pada istrimu maka cambuklah ia !, didiklah ia dengan apa yang engkau kehendaki dan aturlah dia sesuai dengan yang kau kehendaki !" Dan setiap tahun ibunya datang mengunjungi kami dan mengucapkan perkataannya tersebut.

Akupun tinggal bersamanya selama 20 tahun, aku tidak pernah memarahinya sama sekali kecuali hanya sekali, dan sekali itupun akulah yang dzolim/salah kepadanya.

Dan istriku akhirnya meninggal. Sungguh aku berangan-angan agar aku memberikan sebagian umurku untuknya, atau aku dan dia meninggal bersama dalam hari yang sama" (Dirangkum dan digabung-gabungkan dari kitab Ahkaam Al-Qur'an li Ibnil 'Arobi 1/532 dan Ahkaam An-Nisaa' hal 239-240, serta sumber lainnya)
Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 11-11-1434 H / 17 September 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com
0 التعليقات

Muhammad bin Waasi’ (Abid Bashrah dan Hiasan Para Ahli Fikih)



Kita berada di tahun 87 H. Ketika pahlawan Islam dan panglima besar Qutaibah bin Muslim al-Bahili memimpin pasukannya yang tangguh dari kota Marwa menuju Bukhara, hendak menguasai sisa negeri yang ada di seberang sungai. Beliau juga hendak berperang di pinggiran Cina dan menarik jizyah dari mereka.

Belum lagi pasukan Qutaibah bin Muslim menyeberangi sungai Seihun, tiba-tiba penduduk Bukhara melihat pasukan muslimin. Mereka memukul genderang perang di seluruh penjuru dan meminta bantuan negeri tetangga seperti Suged, Turki, Cina, dan sebagainya. Maka berduyun-duyunlah kelompok-kelompok prajurit yang bermacam-macam warna kulit, bahasa dan agama hingga jumlah mereka berlipat ganda dibandingkan pasukan muslimin.

Setelah itu, mereka segera memblokir semua jalan pasukan muslimin dan mengepung seluruh celah yang bisa ditutup. Sampai-sampai Qutaibah bin Muslim tak bisa menyelundupkan pasukan khusus untuk menyelidiki dan mencari berita tentang keadaan musuh, tidak pula bisa menyusupkan mata-mata ke kubu lawan.

Maka Qutaibah bersama pasukannya terjepit di dekat kota Bikand, tak bisa bergerak maju maupun mundur. Sementara musuh selalu bergerilya dengan kelompok-kelompok kecil pasukannya, lalu mereka bertempur sepanjang siang. Bila senja turun, mereka menghilang ke markas dan benteng-bentengnya yang kokoh. Kondisi tersebut berlangsung selama dua bulan berturut-turut. Qutaibah menjadi bingung untuk mengambil sikap apakah akan berhenti atau terus maju.

Tak berselang lama, berita ini berakhir menyebar di seluruh wilayah kaum muslimin. Mereka mencemaskan nasib pasukan tangguh yang belum pernah dikalahkan beserta panglimanya yang belum pernah ditundukkan itu. Para gubernur di daerah-daerah diperintahkan untuk menyerukan agar rakyat turut mendoakan keselamatan pasukan yang sedang berjuang di negeri seberang sungai itu. Kini, setiap masjid penuh dengan doa untuk mereka. Dari menara-menara terdengar seruan permohonan kepada Allah dan para imam membaca doa qunut di setiap shalat.
Akhirnya terbentuklah satu pasukan pembantu yaitu pasukan tangguh yang terdiri dari sukarelawan dari seluruh negeri. Gerakan itu dipelopori oleh syaikh tabi’in yang tersohor, Muhammad bin Waasi’ al-Azdi.
Dikisahkan bahwa Qutaibah bin Muslim memiliki seorang mata-mata non Arab yang dikenal cerdik siasat dan keahliannya bernama Taidzar. Musuh berhasil membujuk mata-mata ini dengan iming-iming harta yang besar agar dia mau mempengaruhi pemimpin muslimin itu. Siasat yang dijalankan adalah dengan memberikan gambaran bahwa keadaan pasukan muslimin sangat lemah dibandingkan dengan pasukan musuhnya yang berkekuatan besar. Dan mengusahakan agar pasukan Islam hengkang dari negeri itu tanpa peperangan.

Taidzar masuk menemani Qutaibah bin Muslim yang tengah berbincang dengan para perwira-perwira utama dan tokoh-tokoh militer lainnya. Dia mendekat di sisi Qutabibah, lalu berbisik: “Wahai Amir kosongkanlah ruangan ini bila Anda menghendaki.”
Sejurus kemudian, Qutaibah mengisyaratkan semua yang hadir untuk keluar kecuali Dzizar bin Hushain yang diminta untuk tetap di tempatnya. Setelah itu Taidzar berkata, “Saya membawa berita untuk Anda wahai Amir.” Qutaibah berkata, “Katakanlah.” Taidzar berkata, “Sesungguhnya Amirul mukminin di Damaskus telah memecat Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan beberapa perwira pengikutnya, sedangkan Anda adalah satu di antara anak buahnya. Beliau juga telah mengganti mereka dengan pemimpin-pemimpin yang baru dalam angkatan bersenjatanya. Mereka saat ini sudah banyak yang dikirim ke pos-pos baru masing-masing dan bisa jadi pengganti Anda akan datang setiap saat, siang ataupun malam. Menurut hemat saya, lebih baik pasukan Anda ditarik saja dari negeri ini dan Anda kembali ke Marwa untuk memikirkan kembali siasat yang jauh dari medan perang.”
Belum lagi Taidzar menghentikan ocehannya, Qutaibah memanggil pengawalnya bernama Siyah lalu beliau katakan, “Wahai Siyah, penggal leher pengkhianat ini!” Selanjutnya Siyah memenggal leher Taidzar, lalu kembali ke tempatnya semula. Qutaibah menoleh kepada Dzirar bin Hushain dan berkata, “Di bumi ini tidak ada orang lain yang mendengar tentang berita baru kecuali engkau dan aku. Aku bersumpah dengan nama Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, bila berita ini sampai ke telinga orang lain sebelum perang selesai akan aku susulkan engkau kepada pengkhianat murahan ini. Oleh sebab itu, jika engkau masih sayang kepada dirimu, jagalah dirimu, jagalah lidahmu. Ketahuilah bahwa bila berita ini tersebar kepada pasukan kita, maka akan menjatuhkan mental juang mereka.”

Orang-orang dipanggil kembali. Tatkala mereka melihat Taidzar tergeletak berlumuran darah, mereka terkesiap keheranan. Qutaibah berkata, “Apa yang mengejutkan kalian dari kematian seorang pengkhianat dan pendusta ini?” Mereka berkata, “Kami sangka dia pembela Islam.” Qutaibah berkata, “Bahkan dia adalah pengkhianat kaum muslimin, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas pengkhianatannya itu.” Lalu beliau berteriak lantang, “Sekarang berangkatlah kalian untuk menghancurkan musuh-musuh kalian. Hadapilah mereka dengan hati dan tekad yang baru.”

Dengan patuh pasukan itu melaksanakan perintah panglimanya, Qutaibah bin Muslim. Mereka bersiaga menghadapi musuh di tapal batas. Hanya saja, ketika dua kubu telah berhadapan, pasukan Islam melihat banyaknya musuh dan lengkapnya persenjataan mereka, maka ketakutan mulai menjalar. Qutaibah bisa merasakan apa yang berkecamuk dalam hati para prajuritnya. Maka beliau segera berkeliling dari satu kompi ke kompi yang lain untuk membangkitkan semangat mereka. Kemudian beliau memandang ke kanan dan kiri seraya bertanya, “Di mana Muhammad bin Waasi’ al-Uzdi?” Mereka menjawab, “Beliau di barisan sebelah kanan, wahai amir.” Qutaibah berkata, “Apa yang tengah dilakukannya?” Mereka berkata, “Bersandar pada tombaknya, menata ke depan sambil mengarahkan telunjuknya ke langit untuk berdoa. Apakah Anda menginginkan agar kami memanggil beliau?”

Qutaibah, “Tidak perlu, biarkanlah dia. Demi Allah, telunjuknya itu (doa beliau) lebih aku sukai dariapada seribu pedang pilihan yang dihunus oleh seribu pemuda jagoan. Maka biarkanlah dia berdoa, kita mengetahui bahwa doanya mustajab.”

Perang pun berkecamuk, dua pasukan besar saling menerjang laksana singa yang hendak menerkam mangsanya. Kedua pasukan bertemu laksana dua gelombang air bah yang saling bertabrakan. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ketenangan dalam jiwa pasukan Islam dan membantu dengan ruh kekuatan dari-Nya.

Prajurit Islam terus menyerbu musuh sepanjang hari, hingga manakala beranjak malam, Allah menggoyahkan telapak kaki musuh dan rasa gentar menyelimuti mereka hingga akhirnya menyerah. Para mujahidin dapat melumpuhkan mereka dengan mudah, sebagian berantakan dan lari kocar-kacir, sebagian lainnya berhasil ditawan. Begitulah, mereka menyerah kalah dan minta berdamai kepada Qutaibah dengan mengajukan tebusan.
Di antara tawanan tersebut ada orang yang jahat dan hobi memprovokasi kaumnya untuk memusuhi Islam. Dia berkata, “Aku ingin menebus diriku wahai Amir!” Qutaibah berkata, “Berapa harga tebusannya?” Tawanan itu menjawab, “Lima ribu helai kain sutera Cina seharga satu juga.”

Mendengar jawaban itu, Qutaibah menoleh kepada para sahabatnya, “Bagaimana menurut kalian?” Mereka berkata, “Menurut kami, harta tersebut akan menambah jumlah ghanimah bagi muslimin. Sementara itu kita juga sudah tak mengkhawatirkan sepak terjangnya dan yang semacamnya setelah kemenangan besar yang kita raih ini.”

Qutaibah menoleh kepada Muhammad bin Waasi al-Uzdi dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu wahai Abu Abdillah?” Beliau menjawab, “Wahai amir, tujuan kaum muslimin keluar berjihad ini bukanlah untuk mengumpulkan ghanimah atau menumpuk harta, melainkan keluar demi ridha Allah, menegakkan agama-Nya di atas bumi dan menghancurkan musuh-musuh-Nya.” Qutaibah berkata, “Jazakallahu khairan, semoga Allah membalas kebaikan Anda wahai Abu Abdillah, demi Allah aku tidak akan membiarkan orang-orang semacam ini menakut-nakuti wanita muslimah setelah ini. Walaupun dia hendak menebus dirinya dengan harta sebesar dunia ini.” Kemudian beliau perintahkan agar tawanan itu dibunuh.

Hubungan Muhammad bin Waasi’ dengan para pemimpin Bani Umayah bukan terbatas dengan Yazid bin Muhallab dan Qutaibah bin Muslim al-Bahili saja, melainkan meluas kepada para wali dan amir lainnya. Termasuk di antaranya adalah wali Basrah, Bilal bin Abi Burdah. Banyak peristiwa mengesankan bersama gubernur yang satu ini.

Pernah suatu hari Muhammad bin Waasi’ datang kepada amir ini dengan mengenakan jubah dari kain yang kasar. Beliau ditanya, “Mengapa Anda mengenakan pakaian sekasar ini, wahai Abu Abdillah?” Beliau pura-pura tidak mendengar dan tak berkomentar sepatah kata pun sehingga wali Basrah itu kembali bertanya:
Bilal: “Mengapa Anda tidak menjawab pertanyaan saya wahai Abu Abdillah?”
Muhammad: “Aku tidak suka mengatakan bahwa inilah zuhud, karena berarti aku membanggakan diri. Dan benci mengatakannya sebagai kefakiran, karena itu menunjukkan bahwa aku tidak mensyukuri karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal sesungguhnya aku telah ridha.”

Bilal: “Apakah Anda membutuhkan sesuatu wahai Abu Abdillah?”
Muhammad: “Wahai amir, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menanyai hamba-Nya tentang qadha dan qadar pada hari kiamat nanti. Namun Dia akan bertanya tentang amal mereka.”

Maka terdiamlah wali Bashrah ini karena malu.
Muhammad bin Waasi’ masih berada di sisi gubernur ketika waktu makan siang tiba. Wali Basrah itu mengajak beliau untuk makan bersama, tetapi beliau menolaknya dengan berbagai dalih. Hingga Bilal menjadi tersinggung dan berkata, “Apakah Anda tidak suka makan makanan kami, wahai Abu Abdillah.” Beliau berkata, “Janganlah berkata begitu wahai amir. Demi Allah bahwa yang baik-baik dari kalian para amir adalah lebih kami cintai daripada anak-anak dan keluarga kami sendiri.”

Berkali-kali Muhammad bin Waasi’ diminta untuk menjadi qadhi, namun beliau selalu menolak dengan tegas dan terkadang membuat dirinya menghadapi resiko karenanya.
Beliau pernah dipanggil oleh kepala polisi Basrah, yaitu Muhammad bin Mundzir. Dia berkata, “Gubernur Irak memerintahkan aku untuk menyerahkan jabatan qadhi kepada Anda.” Beliau menjawab, “Jauhkan aku dari jabatan itu, semoga Allah memberimu kesejahteraan.” Permintaan tersebut diulang dua atau tiga kali namun beliau tetap menolaknya.

Karena ditolak, kepala polisi itu marah dan berkata sambil mengancam, “Anda terima jabatan itu atau aku akan mencambuk Anda sebanyak 300 kali tanpa ampun!” Beliau berkata, “Jika engkau melakukan itu maka berarti Anda bertindak semena-mena. Ketahuilah bahwa disiksa di dunia lebih baik daripada harus disiksa di akhirat.” Kepala polisi itu menjadi malu, lalu mengijinkan Muhammad bin Waasi’ untuk pulang dengan penuh hormat.

Majelis Muhammad bin Waasi’ di Masjid Basrah menjadi tujuan utama para penuntut ilmu, pencari hikmah dan kehidupan hati. Sejarah banyak mencatat tentang berita-berita di majelis itu. Sebagai contoh, ketika ada seseorang berkata kepada beliau: “Wahai Abu Abdillah, berilah wasiat kepadaku.” Beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu agar menjadi raja di dunia dan di akhirat.” Penanya terkejut dan berkata, “Bagaimana bisa aku mewujudkannya?” Beliau berkata, “Jangan sekali-kali tamak terhadap isi dunia, niscaya engkau menjadi raja di dunia, sedangkan di akhirat menjadi raja dengan kemenangan atas pahala-pahala yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Contoh lain, ketika ada yang berkata, “Wahai Abu Abdillah, aku mencintaimu.” Beliau berkata, “Semoga Allah mencintaimu karena kecintaanmu.” Beliau berkata, “Semoga Allah mencintaimu karena kecintaamu itu.” Lalu beliau pergi sambil bergumam, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu bila aku dicintai karena Engkau, padahal Engkau murka kepadaku.”

Setiap kali beliau mendengar pujian dan sanjungan orang terhadap beliau karena ketakwaan dan ibadahnya, beliau berkata, “Andai saja perbuatan dosa itu mengeluarkan bau busuk, niscaya tak seorang pun di antara kalian yang sudi mendekatiku.”
Muhammad bin Waasi’ senantiasa mengingatkan murid-muridnya agar selalu berpegang teguh kepada Kitabullah dan hidup di bawah naungan Alquran. Beliau berkata, “Alquran adalah taman bagi setiap mukmin, setiap kali dia menunaikan satu bagian darinya berarti dia telah singgah di tamannya.”

Beliau menasihatkan pula agar orang-orang mengurangi porsi makannya, karena barangsiapa yang mengurangi makan niscaya akan tajam pikiran dan pemahamannya, menjadi lembut dan bersih hatinya. Adapun terlalu kenyang dalam makan akan memberatkan seorang untuk mewujudkan keinginannya.

Derajat takwa yang dimiliki Muhammad bin Waasi’ mencapai puncak yang tinggi. Sebuah kisah menyebutkan bahwa beliau pernah terlihat di pasar untuk menjual keledainya. Orang yang hendak membelinya bertanya, “Apakah Anda telah rela menjualnya kepadaku, wahai syaikh?” Beliau menjawab, “Kalau saja aku rela untuk diriku pastilah aku tidak akan menjualnya.”

Sepanjang hidup, beliau senantiasa merasa takut akan dosa-dosanya, takut akan diperiksa Rabb-nya. Karena itulah, setiap kali beliau ditanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Abu Abdillah?” Beliau menjawab, “Semakin dekat dengan ajalku namun menjauh dari cita-citaku. Alangkah buruknya yang aku perbuat.” Ketika beliau melihat penanya keheranan, beliau berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang setiap hari berjalan menuju akhirat?”

Di saat Muhammad bin Waasi’ menderita sakit yang tampaknya akan menyebabkan kematiannya, orang-orang datang berbondong menjengkuk beliau hingga rumahnya penuh sesak dengan orang yang keluar masuk, yang duduk dan berdiri. Ketika melihatnya, Muhammad bin Waasi’ mengeluh kepada orang yang berjaga di sisinya, “Apalah faidah hadirnya mereka bagiku, bila kelak aku dituntut dari ubun-ubun hingga telapak kaki. Apa gunanya pula mereka bagiku bila kelak aku dimasukkan ke dalam api neraka.”

Setelah itu beliau berdoa, “Ya Allah, aku memohon ampunan-Mu atas segala kondisi dan kejahatan yang aku kerjakan, di tempat yang mana aku berbuat dosa di sana, di pintu kejahatan yang aku masuki dan dari kejahatan yang aku keluar daripadanya dan setiap amal buruk yang aku kerjakan, dari perkataan-perkataan buruk yang aku ucapkan dan aku bicarakan. Ya Allah, aku memohon ampunan-Mu atas semua itu. Ampunilah aku, aku bertaubat kepada-Mu, maka berilah ampunan untukku sehingga aku dapat menjumpai-Mu dengan selamat sebelum dihisab.”


Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009
Artikel www.KisahMuslim.com



0 التعليقات

Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab, Seorang Alim yang Mengamalkan Ilmunya




Anak Umar bin Khathhab banyak, akan tetapi yang paling mirip dengannya adalah Abdullah. Abdullah bin Umar juga memiliki banyak anak, bahkan lebih banyak daripada anak ayahnya, dan yang paling mirip dengan Abdullah adalah Salim

Mari kita lanjutkan kisah kehidupan Ibnu Abdullah, cucu al-Faruq, Umar Ibnul Khattab, yang serupa dengan kakeknya dalam perwujudan fisik, akhlak, agama, dan kewibawaannya.

Salim bertempat tinggal di kota Thaibah Madinah al-Munawarah. Ketika itu kota tersebut dalam kondisi makmur dan kaya raya. Rezeki dan kenikmatan melimpah ruah dan belum pernah disaksikan yang seperti itu sebelumnya. Rezeki datang dari segala penjuru, para khalifah Bani Umayah membanjirinya dengan kekayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Namun hal itu tidaklah membuat Salim terpikat dengan harta seperti yang lain, dan tidak pula menggandrungi keindahan-keindahan yang sementara dan fana. Sebaliknya dia senantiasa berzuhud atas apa yang ada di tangan manusia demi mengharapkan apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berpaling dari hal-hal yang fana untuk menggapai kenikmatan yang abadi.

Tak terhitung seringnya khalifah Bani Umayah ingin memberikan hadiah berbagai kenikmatan bagi beliau dan bagi yang lainnya, namun beliau tetap berpegang pada kezuhudannya, tidak tamak akan apa yang ada di tangan orang lain dan memandang rendah dunia beserta isinya.

Tahun itu, khalifah Sulaiman berkunjung ke Mekah untuk berhaji. Pada saat melakukan thawaf, beliau melihat Salim bin Abdullah bersimpuh di depan Ka’bah dengan khusyu. Lidahnya bergerak kmembaca Alquran dengan tartil dan khusyuk. Sementara air matanya meleleh di kedua pipinya. Seakan ada lautan air mata di balik kedua matanya.
Usai tawaf dan shalat dua rakaat, khalifah berusaha menghampiri Salim. Orang-orang memberinya tempat, sehingga dia bisa duduk bersimpuh hingga menyentuh kaki Salim. Namun Salim tidak menghiraukannya karena asyik dengan bacaan dan dzikirnya.
Diam-diam khalifah memperhatikan Salim sambil menunggu beliau berhenti sejenak dari bacaan dan tangisnya. Ketika ada peluang, khalifah segera menyapa,
Khalifah: “Assalamu’alaika wa rahmatullah wahai Abu Umar.”
Salim: “Wa’alaikassalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Khalifah: “Katakanlah apa yang menjadi kebutuhan Anda wahai Abu Umar, saya akan memenuhinya.”

Salim tidak mengatakan apa-apa sehingga khalifah menyangka dia tidak mendengar kata-katanya. Sambil merapat, khalifah mengulangi permintaannya: “Saya ingin Anda mengatakan kebutuhan Anda agar saya bisa memenuhinya.”

Salim: “Demi Allah, aku malu mengatakannya. Bagaimana mungkin, aku sedang berada di rumah-Nya, tetapi meminta kepada selain Dia?”

Khalifah terdiam malu, tapi dia tak beranjak dari tempat duduknya. Ketika shalat usai, Salim bangkit hendak pulang. Orang-orang memburunya untuk bertanya tentang hadis ini dan itu, dan ada yang meminta fatwa tentang urusan agama, dan ada pula yang meminta untuk didoakan. Khalifah Sulaiman termasuk di antara kerumunan itu. Begitu mengetahui hal tersebut, orang-orang menepi untuk memberinya jalan. Khalifah akhirnya bisa mendekati Salim, lalu berkata:

Khalifah: “Sekarang kita sudah berada di luar masjid, maka katakanlah kebutuhan Anda agar saya dapat membantu Anda.”
Salim: “Dari kebutuhan dunia atau akhirat?”
Khalifah: “Tentunya dari kebutuhan dunia.”
Salim: “Saya tidak meminta kebutuhan dunia kepada yang memilikinya (Allah), bagaimana saya meminta kepada yang bukan pemiliknya?”
Khalifah malu mendengar kata-kata Salim. Dia berlalu sambil bergumam, “Alangkah mulianya kalian dengan zuhud dan takwa wahai keturunan al-Khaththab, alangkah kayanya kalian dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi kalian sekeluarga.”

Tahun sebelumnya, al-Walid bin Abdul Malik juga menunaikan ibadah haji. Ketika orang-orang telah turun dari Arafah, khalifah menjumpai Salim bin Abdullah di Muzdalifah. Ketika itu Ibnu Abdillah mengenakan pakaian ihram.
Al-Walid mengucapkan salam dan doa, khalifah memandangi tubuh Salim yang terbuka, tampak begitu sehat dan kekar bagaikan sebuah bangunan yang kokoh.

Al-Walid: “Bentuk tubuh Anda bagus sekali, wahai Abu Umar, apakah makanan Anda sehari-hari?”
Salim: “Roti dan Zaitun dan terkadang daging jika saya mendapatkannya.”
Al-Walid: “Hanya roti dan zaitun?”
Salim: “Benar.”
Al-Walid: “Apakah kamu berselera memakan itu?”
Salim: “Jika kebetulan aku tidak berselera, maka aku tinggalkan hingga lapar hingga saya berselera terhadapnya.”

Salim tak hanya mirip dengan kakeknya, al-Faruq Umar bin Khaththab, dalam bentuk fisik dan kezuhudan terhadap dunia yang fana, namun juga dalam keberaniannya menyampaikan kalimat yang benar meski berat resikonya.
Beliau pernah menemui Hajjaj bin Yusuf untuk membicarakan tentang kebutuhan kaum muslimin. Hajjaj menyambutnya dengan baik, dipersilakan duduk di sisinya dan dihormati secara berlebihan. Beberapa saat kemudian beberapa orang dibawa ke hadapan Hajjaj, pakaiannya compang-camping, wajahnya pucat dan semua dalam keadaan di belenggu. Hajjaj menoleh kepada Salim bin Abdullah dan menjelaskan, “Mereka adalah pembuat onar di muka bumi, menghalalkan darah yang telah Allah haramkan.”
Dia mengambil pedang dan menyerahkannya kepada Salim sekaligus memberi isyarat kepada orang pertama, dia berkata kepada Salim: “Bangkitlah, dan tebaslah lehernya!”
Pedang itu diterima oleh Salim, beliau menghampiri orang yang dimaksud. Seluruh mata menghadap kepadanya untuk melihat apa yang hendak beliau lakukan. Salim berdiri di depan orang tersebut lalu bertanya,

Salim: “Apakah Anda muslim?”
Tahanan: “Benar saya muslim. Tapi apa perlunya Anda bertanya demikian? Lakukan saja apa yang diperintahkan kepada Anda!”
Salim: “Apakah Anda shalat subuh?”
Tahanan: “Sudah saya katakan bahwa saya muslim. Mengapa Anda bertanya apakah saya shalat subuh? Adakah seorang muslim yang tidak mengerjakan shalat subuh?”
Salim: “Saya bertanya, apakah Anda shalat subuh hari ini?”
Tahanan: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada Anda. Saya katakan, ‘Ya.’ Silakan Anda melaksanakan perintah zalim itu, jika tidak tentulah dia akan marah kepada Anda.”

Salim bin Abdullah kembali ke hadapan Hajjaj. Sambil melemparkan pedang yang digenggamnya dia berkata, “Orang ini mengaku sebagai seorang muslim dan berkata bahwa hari ini sudah shalat subuh. Saya mendenganr Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa shalat subuh, dia berada dalam naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” maka saya tidak akan membunuh seseorang yang berada dalam perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Hajjaj marah mendengarnya dan berkata, “Kami akan membunuhnya bukan karena meninggalkan shalat, melainkan karena dia membantu pembunuhan atas khalifah Utsman bin Affan.” Salim berkata, “Padahal ada orang yang lebih berhak untuk menuntut darah Utsman bin Affan daripada engkau.” Hajjaj pun diam tak mampu berbicara.

Di antara yang menyaksikan kejadian itu pergi ke Madinah dan menceritakan semua yang dilihatnya tentang Salim kepada ayahnya, Abdullah bin Umar. 
Ibnu Umar tak sabar ingin mendengar cerita orang tersebut sehingga bertanya mendesak, “Lalu apa yang dilakukan oleh Salim?” Orang itu menjelaskan, “Dia melakukan ini dan itu.”
Alangkah gembiranya Abdullah bin Umar. Beliau berkata, “Bagus! Bagus! Cerdas…cerdas…!”

Ketika khilafah beralih ke tangan Umar bin Abdul Aziz, khalifah baru itu segera mengirim surat kepada Salim bin Abdillah:

“Amma ba’du, Saya telah menerima ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengurusi permasalahan umat tanpa diminta atau dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan saya. Maka dengan ini saya memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengujiku agar berkanan menolongku. Jika surat ini sampai ke tangan Anda, saya minta agar Anda mengirimkan kepada saya buku-buku tentang Umar bin Khaththab, perilaku dan keputusan-keputusanya sebagai khalifah. Saya ingin sekali mengikuti jejak beliau dan berjalan mengikuti jalan beliau, semoga Allah memelihara saya untuk ini. Wassalam.”

Setelah membaca surat tersebut, Salim bin Abdillah mengirim surat balasan:
”Telah sampai kepadaku surat Anda yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menguji Anda dengan kewajiban mengurus kaum muslimin tanpa Anda minta dan tanpa dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan Anda. Dan Anda menginginkan jalan yang telah dilalui Umar bin Khaththab.

Yang perlu Anda perhatikan dan ingat selalu adalah bahwa Anda tidak hidup pada zaman Umar bin Khaththab dan tidak didampingi orang-orang seperti mendampingi Umar bin Khaththab. Tetapi ketahuilah, bila Anda mempunyai niat untuk berbuat baik dan benar-benar menginginkannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantu Anda bersama para pejabat yang mendampingi Anda. Hal itu akan datang di luar perhitungan Anda, sebab pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya didasarkan pada niatnya. Bila berkurang niatnya pada kebaikan, maka akan berkurang pula pertolongan-Nya. Apabila nafsu Anda mengajak kepada sesuatu yang tak diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala maka ingatlah apa yang dialami oleh para penguasa sebelum Anda.

Maka perhatikanlah betapa rusaknya mata mereka karena hanya digunakan untuk melihat kenikmatan, perut mereka pecah karena terlalu kenyang dengan syahwat. Bayangkanlah seandainya jenazah mereka diletakkan di samping rumah dan tidak dimasukkan ke liang lahat. Tentulah kita akan sengsara karena baunya dan terkena penyakit karena busuknya. Wassalamu’alaika warahmatullahi wabarakatuh.”
Kehidupan Salim bin Abdillah bin Umar bin Khaththab penuh dengan taqwa, akrab dengan hidayah, menjauhi kesenangan dunai dan godaannya, memperlakukannya sesuai dengan jalan yang diridhai Allah. Beliau makan makanan keras dan mengenakan pakaian dari bahan yang kasar, bergabung dengan pasukan muslimin untuk menghadapi Romawi, dan selalu berusaha membantu menyelesaikan masalah kaum muslimin.
Ketika ajal menjemputnya pada tahun 106 H, duka cita menyelimuti kota Madinah. Semua orang datang untuk mengantar jenazah dan menyaksikan pemakamannya. Termasuk Hisyam bin Abdul Malik yang ketika itu berada di Madinah turut menghadiri pemakaman beliau.

Takjub dengan banyaknya lautan manusia yang mengantar jenazah Salim bin Abdullah, timbul rasa iri di hatinya sehingga di bergumam, “Nanti akan terbukti betapa banyak manusia yang akan menghadiri pemakaman tatkala khalifah muslimin wafat di negeri mereka.” Kemudian dia berkata, “Kirimkanlah empat ribu pemuda ke perbatasan.” Maka tahun tersebut dikenal dengan tahun empat ribu.

Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

www.KisahMuslim.com

0 التعليقات
 
Copyright © 2011. Abu Nawwaf Rosyidi - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger